recycling

Adakah Pengaruh Daur Ulang pada Perubahan Perilaku terhadap Lingkungan?

Recycling atau daur ulang adalah proses mengumpulkan dan memproses bahan yang tidak terpakai yang dikategorikan sebagai sampah kemudian mengubahnya menjadi produk baru.  Daur ulang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Daur ulang menjadi salah satu jargon yang sering kita dengar usaha untuk menyelamatkan lingkungan. Apakah daur ulang betul-betul dapat berkontribusi untuk menyelamatkan lingkungan? Apakah dengan melakukan kegiatan daur ulang akan membawa ke perubahan perilaku terhadap lingkungan yang lebih baik?  Mari kita simak beberapa pendapat ahli mengenai hal ini.

Pendapat Ahli mengenai Daur Ulang

Samantha MacBride, seorang asisten profesor Urusan Publik Baruch College, City University of New York mengatakan bahwa “daur ulang adalah perilaku warga negara yang baik”, namun daur ulang dipromosikan berlebihan sebagai obat mujarab untuk sebagian besar isu-isu kerusakan lingkungan  mulai dari meningkatnya sampah di TPA hingga ke pemanasan global.  Dia berpendapat bahwa orang yang telah melakukan daur ulang sudah merasa berpartisipasi dengan melakukan daur ulang, padahal ada banyak hal lain lagi yang terkait yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan. Dia juga menambahkan bahwa daur ulang mencegah sepertiga sampah yang dikirim ke TPA.

Penulis buku  “Recycling Reconsidered” (MIT Press, 2011) ini juga mengemukakan bahwa masyarakat tidak mendaur ulang semuanya karena model daur ulang yang ada saat ini di kota-kota mengambil semua bahan yang bisa didaur ulang yangs udah tercampur dengan plastik dan hal ini tidaklah efektif.  “Banyak sekali bahan material plastik dan berbagai mcam jenis resin yang berbeda” ungkap Professor MacBride. ” Kita membutuhkan pasar dan proses untuk merujuk plastik dan resin ini menuju ke proses produksi dan dalam kenyataannya proses-proses ini tidak ada“. Beberapa plastik dikirim ke Cina dan negara berkembang dan beberapa dibuang di TPA. Titik beratnya dalam hal ini, menurut Profesor MacBride, harus kepada pengaturan dan daur ulang sampah dari produsen pabrik daripada ke konsumen.

Michael Maniates, seorang profesor ilmu lingkungan Allegheny College di Pennsylvania mengemukakan permasalahan lain dari daur ulang adalah sepertinya menjadi hal yang sangat baik untuk dilakukan bila dibandingkan dengan membuang sampah secara langsung, sepertinya daur ulang telah menjadi semacam hadiah/imbalan konsumsi.

Gernot Wagner, seorang ekonom yang tergabung dalam Environmental Defense Fund dan penulis buku “But Will the Planet Notice: How Smart Economics Can Save the World,” (Hill and Wang, 2011) juga mengamini. “Banyak fenomena yang telah direkam yang dikenal sebagai bias aksi tunggal, ketika orang melakukan satu hal dan kemudian terus berlanjut”. Masyarakat tidak secara eksplisit berpikir ‘Saya telah mendaur ulang dan membantu menurunkan pemanasan global’ namun  begitu mereka melakukan aksi seperti daur ulang masyarakat secara sadar maupun tidak sadar merasa sudah melakukan bagiannya “.

Pusat Penelitian Pengambilan Keputusan Lingkungan atau Center Research on Environmental Decision yang berafiliasi dengan Earth Institute at Columbia University, menyatakan dalam websitenya: “Meskipun daur ulang penting, seharusnya menjadi sebuah rangkaian perubahan perilaku yang bertujuan untuk mengurangi perubahan iklim. Mengganti ke energi yang terbarukan, mengurangi konsumsi daging, konservasi energi dan konsumsi makanan lokal adalah cara efektif lainnya untuk mitigasi atau mengurangi perubahan iklim. Namun apabila individual dan institusi berpartisipasi dalam program daur ulang, menere rentan pada bias aksi tungal dan merasa sudah melakukan hal yang cukup untuk melindungi lingkungan.”

Allen Hershkowitz, peneliti senior dan direktur proyek sampah padat di organisasi lingkungan Natural Resources Defense Council mengemukakan “Saya tidak pernah berhubuangan dengan individu atau perusahaan yan mengatakan ‘Kami sudah mendaur ulang maka kami tidak perlu melakukan hak yang lainnya’, namun lebih pada ‘Kami sudah mendaur ulang, apalagi yang bisa kami lakukan?’”.  Hershkowitz mengatakan bahwa daur ulang adalah titik masuk aktivitas yang akanmembawa ke aktivitas yang lain seperti membeli barang-barang daur ulang dan energi yang efektif “.

Juliet Schor, seorang profesor Sosiologi Boston College, mengatakan sejumlah studi di Eropa membuktikan bahwa masyarakat yang membeli produk ramah lingkungan atau yaudah melakukan semacam “kesadaran berkonsumsi” tidak hanya berhenti di situ saja, namun melanjutkan kepasa tipe-tipe kegiatan perlindungan lingkungan yang lain.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh  Professor Schor dan seorang mahasisra pasca sarjana Margaret Willis yang diterbitkan baru-baru ini dalam The Annals of the American Academy of Political and Social Science, berjudul “Does Changing Light Bulbs Lead to Changing the World? Political Action and the Conscious Consumer” melihat pada perhatian atau urusan  bahwa ‘aksi indivisu menggantikan atau mengeluarkan aksi publik dan kolektif . Studi ini memasukkan  2271 respon survei dari masyarakat yang diidentifikasikan sebagai individual yang memiliki ‘kesadaran berkonsumsi’. Para responden sebagai besar perempuan, berpendidikan dan ditanyakan pertanyaan seberapa sering (range dari “tidak pernah” hingga “sangat konsisten”) pada keterlibatan mereka untuk aktivitias mengemudi lebih jarang, mengkontak perwakilan untuk mengekspresikan opini dan membeli barang lokal dan ramah lingkungan. Penelitian ini tidak menilik aspek daur ualng secara khusus, namun ditemukan bahwa individu yang melakukan tidankan ramah lingkungan juga lebih banyak terlibat dalam aktivitas politik ayng lebih luas.

Daur Ulang Betul-betul Menyelamatkan Lingkungan? 

Professor Schor mengatakan bahwa dia merasa tidak pas ketika daur ulang diajarkan di sekolah-sekolah sebagai cara untuk menyelamatkan lingkungan.

Hal yang sama juga menjadi perhatian  Professor MacBride. “Kita tidak mau mendengan sisi buruk dari daur ulang”. Professor MacBride mengatakan “Hal tersebut adalah pandangan kekanak-kanakan, sudah saatnya kita berpandangan yang lebih dewasa”.  Jadi apa yang bisa dilakukan? “Ingat, kita masih punya — reduce and reuse — atau mengurangi dan memakai kembali yang terlalu sering kita diabaikan”.

“Namun ternyata “reuse” atau penggunaan kembali adalah sesuatu yang dipelajari oleh anak-anak kita disekolah sebagai bagian 3R”.  Professor Maniates mengatakan. “Namun hal tersebut tidak memiliki arti dalam mainstream atau politik lingkungan popular dan kehidupan keseharian. Saya membawa hanger-hanger saya ke dry cleaner dan mengatakan ‘mungkin Anda bisa menggunakan ini kembali’  dan mereka merespon ‘tentu, kami akan daur ulang lagi hanger-hanger ini’.”

David N. Pellow, seorang profesor Sosiologi University of Minnesota, juga mengemukakan perspektif yang sama, “Saya akan menganjurkan masyarakat untuk membeli barang lebih sedikit, dengan kualitas yang lebih tinggi dan memperbaiki bila ada yang rusak. Saya akan menganjurkan kepada maysrakat bahwa daur ulang dilakukan pada fase akhir setelah mereka melakukan berbagai hal”.

Dan ingat, untuk tidak terjebak dalam bias aksi tinggal. Seperti yang dikatakan oleh Mr. Hershkowitz: “Kita berhubungan dengan masyalah yang besar dan tidak ada individu atau bisnis atau negara yang dapat memecahkan permasalahan-permasalahan ekologi. Akan membutuhkan milyaran orang untuk membuat pilihan ekologis yang bijaksana”.

Sumber: nytimes.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>