mitigation through food and land use_2

Mitigasi Perubahan Iklim Melalui Pangan dan Tata Guna Lahan

Daratan terdiri dari seperempat permukaan Bumi, dan tanah dan tumbuhan menyimpan/menahan tiga kali lebih banyak karbon daripada di atmosfir. Lebih dari 30 % gas rumah kaca berasal dari sektor tata guna lahan. Sehingga, tidak ada strategi mitigasi atau mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim dapat menjadi sempurna atau sukses tanpa usaha mengurangi emisi dari pertanian, kehutanan dan tata guna lahan lainnya. Trelebih lagi, hanya yang berbasis daratan atau penyimpanan karbon terestial yang menawarkan kemungkinan pemusnahan gas rumah kaca dalam skala besar gas rumah kaca dari atmosfir melalui fotosintesis tanaman.

Lima strategi terbesar untuk mengurangi dan menyimpan emisi gas rumah kaca terestial/daratan adalah sebagai berikut:

• Memperkaya karbon tanah. Tanah adalah kolam karbon terbesar ketiga di permukaan bumi. Tanah pertanian dapat diatur untuk mengurangi emisi dengan meminimalisir tanah yang dikerjakan, mengurangi penggunaan pupuk nitrogen dan menahan erosi. Tanah dapat menyimpan karbon yang ditangkap oleh tanaman dari atmosfir dengan mengumpulkan zat tanah organik, yang juga akan lebih jauh menambah penyimpnana karbon di tanah.

Beternak dengan tanaman hijau. Tanaman hijau sepanjang tahun, rumput, kelapa-kelapaan dan pohon secara konstan akan memantain dan menumbuhkan akar dan biomassa kayu dan karbon yang diasosiasikan, sementara pada saat yang sama menyediakan tutupan tanaman untuk tanah. Banyak potensi untuk mengganti tanaman yang digarap tahunan (jagung dan jenis bijian-bijian) dengan tanaman hijau, utamanya untuk makanan hewan dan minyak sayur, dan juga memasukkan tanaman hijau berkayu ke sistim tahunan pertanian dalam sistim agroforestri.

Produksi ternak yang ramah iklim. Pertumbuhan permintaan yang cepat akan produk ternak telah memicu pertumbuhan yang tinggi jumlah binatang, terkonsentarsi pada sampah di usaha peternakan penggemukan dan perusahaan susu, dan membersihkan padang rumput alami dan hutan untuk penggembalaan ternak. Emisi karbon yang terkait ternak dan metan saat ini bertanggungjawab sebesar 15.5% dari total gas rumah kaca-lebih besar daripada sektor transportasi. Pengurangan di jumlah ternak mungkin dibutuhkan namun inovasi dalam hal produksi dapat membantu, termasuk sistim penggembalaan berotasi, manajemen manure dan pemangkapan metah untuk produksi biogas dan memperbaiki makanan dan makanan tambahan ternak.

•  Melindungi habitat alam. Bumi memiliki 4 milyar hektar hutan dan 5 milyar hektar padang rumput alam yang merupakan reservoir raksasa karbon-dalam hal vegetasi di atasnya maupun di sistim perkaran di bawah tanah. Seiring dengan hutan dan padang rumput tumbuh, dapat mengurangi karbon di atmosfir. Deforestrasi, pembersihan lahan dan hutan, padang, kebakaran padang  rumput merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca. Insentif dibutuhkan untuk mendorong petani dan pengguna lahan untuk tetap menjaga vegetasi alami melalui sertifikasi produk, pembayatan untuk servis iklim, dan mengamankan hak tenure, dan kontrol kebakaran komunitas. Konservasi dari habitat alami akan memberikan manfaat pada keanekaragaman dalam perubahan iklim.

Menjaga yang DAS sudah terdegradasi. Area yang luas di dunia telah mengalami kegundulan vegetasi melalui pembersihan vegetasi untuk tanaman atau grazing dan dari penggunaan berlebih dan manajemen yang buruk. Degradasi lahan tidak hanya menghasilkan emisi gas rumah kaca yang besar, namun juga masyarakat lokal kehilangan aset sumber penghidupan dan fungsi penting DAS. Dengan menyimpan penutup vegetasi pada lahan yang terdegradasi dapat menjadi strategi menang-memang untuk mengatasi perubahan iklim, kemiskinan pedesaan dan kelangkaan air.

Komunitas pertanian memiliki peran yang sentral dalam menghadapi perubahan iklim, Bahkan pada harga yang rendah untuk mitigasi emisi karbon, meningkatkan manajemen lahan dapat mengimbangi seperempat emisi global dari penggunaan bahan bakar fosil dalam satu tahun. Bertolak belakang dengan solusi mengurangi emisi dengan penangkapan karbon di sektor industri yang sepertinya tidak mungkin untuk terwujud dalam waktu puluhan tahun ke depan dan tidak menghilangkan emisi gas rumah kaca yang sudah ada di atmosfer. Untuk mengatasi tantangan perubahan iklim, kita perlu untuk mengejar solusi penggunaan lahan di samping upaya untuk meningkatkan efisiensi energi dan mempercepat transisi ke energi terbarukan.

Namun hingga saat ini, ilmu pengetahuan dan masyarakat internasional lambat dalam merangkul aksi iklim di berbasis daratan (terestial). beberapa ketakutan bahwa investasi di tata guna lahan tidak akan menghasilkan manfaat iklim yang “nyata”, atau aksi terkait dengan tata guna lahan akan mengalihkan perhatian dari investasi energi alternatif. Juga ada kekhawatiran bahwa manajemen perubahan lahan tidak dapat diimplementasikan cukup cepat dan pada skala yang akan membuat perbedaan terhadap iklim.

Sumber: worldwatch.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>