Tag Archives: jasa ekosistem alam

ecosystem services_easter-island-edge-of-the-world

Belajar dari Masa Lalu: Hubungan Jasa Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia

Apakah itu Jasa Ekosistem?

Ketika minum segelas air, pernahkan Anda berpikir bagaimana air ini telah dibersihkan di hulu DAS sungai? Ketika makan buah atau nasi, apakah Anda pernah berpikir tentang ribuan spesies seperti kelelawar, lebah, burung dan kupu-kupu yang melakukan peyerbukan pada makanan Anda? Jika Anda pernah terpikir demikian, Anda termasuk golongan minoritas. Sebagian besar dari kita tidak pernah memikirkan atau bahkan menyadarinya, cakupan yang luas dari alam menyediakan jasa ini bagi kita setiap harinya. Kami menyebutnya segudang manfaat alam yang kita nikmati pada dasarnya tergantung jasa ekosistem (ecosystem services).

Jasa ekosistem berkisar dari yang cukup jelas seperti tanaman, ikan, air tawar-hingga yang sulit untuk dilihat manfaatnya secara langsung seperti – regulasi erosi, penyerapan karbon, dan pengendalian hama.

Sayangnya, sebagian besar ekosistem bumi tidak dalam keadaan puncaknya. Hasil penilaian laporan internasional  The Millennium Ecosystem yang ditulis oleh lebih dari seribu ahli dirilis pada tahun 2005, menemukan bahwa lebih dari 60 persen dari jasa ekosistem berada dalam kondisi yang lebih buruk dibandingkan kondisi 50 tahun yang lalu. Hilangnya jasa ekosistem ini juga diperkirakan menyebabkan kerugian secara ekonomis.

Hal ini perlu dirubah. Kebijakan dan pendekatan saat ini perlu diarahkan untuk kepentingan dan manfaat banyak pihak dan memasuki paradigma kelangkaan. Perlu kerjasama berbagai level di mana pihak-pihak terkait pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mendukung nilai bisnis dan berinvestasi dalam ekosistem-seperti hutan, lahan basah, terumbu karang untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan manusia.

Belajar dari Masa Lalu: Jasa Ekosistem dan Keruntuhan Peradaban

Belajar dari peradaban masa lalu, meskipun masih kontroversial, bukti bahwa kegagalan dalam memelihara sebuah suplai mencukupi jasa ekosistem telah menjadi suatu sebab utama keruntuhan sosial dan hilangnya kesejahteraan manusia.

Contoh paling representatif adalah Pulau Paskah di tenggara Pasifik. Masyarakat Polinesia menduduki pulau yang sebelumnya tidak berpenghuni sekitar 900 tahun Masehi. Pada awalnya berkembang namun akhirnya membuat gundul hutan pulau. Pepohonan dibutuhkan sebagai alat tarnsportasi untuk memindahkan bebatuan untukmembuat pos pengawasan lautan. Erosi tanah besar-besaran terjadi, merusak tanaman pangan. Kano kayu tidak dapat lagi dibangun. Bibit tanaman asli yang dimakan oleh tikus, dan penyerbukan burung hilang. Sebagai konsekuensinya, dari perkiraan populasi sekitar 7000 orang di abad 15, jumlahnya menyusut, kondisi semakin memburuk dan kanibalisme muncul. Ketika Penjelajah Belanda mendarat tahun 1722, kurang lebih 2000 penduduk dan beberapa ratus orang moai. Pada abad 19, yang selamat telah berkurang menjadi beberapa ratus orang saja.

Peradaban di Mesopotamia, di bukit Tigris-Euphrates, adalah salah satu contoh negara agraris yang muncul. Di awal milenium di sekitaran daerah Mediterania Timur, antara 7.000 dan 11.000 tahun yang lalu beberapa tanaman dan hewan penting kemungkinan berhasil domestifikasi. Tulisan, di atas tablet tanah liat sepertinya ditemukan di Sumeria, peradaban besar pertama di Mesopotamia, sekitar 5.000 tahun yang lalu. Bukti arkeologis dan sejarah mengindikasikan bahwa Sumeria menderita salinisasi dan tanah pertanian dan diikuti deforestrasi dan penggunaan irigasi. Antara 4.000 dan 5.000 tahun yang lalu, gandum digantukan oleh barley, sebuah sereal yang lebih toleran garam. Di sparuh milenium berikutnya, produktivitas pertanian Sumeria menurun dibawah kebutuhan populasi yang menyebabakan pusat peradaban Mesopotamia berpindah ke arah utara, Babilonia.

Peradaban Maya juga diduga runtuh sekitar 1.000 tahun yang lalu dibawah dobel stress dari siklus iklim regional yang merugikan selama beberapa abad dan permintaan pertanian yang berlebihan untuk suplai air bersih.

Di sisi lain, hanya ada sedikit bukti bahwa jasa ekosistem menjadi pembatas antara runtuhnya peradaban Yunan, Romawi, Inca atau Ming yang bisa disebutkan kecuali hanya beberapa seaja. Di kasus lainnya, kurangnya jasa ekosistem mungkin menjadi faktor yang berkontribusi, namun apakah perannya tidak sepenuhnya mendapatkan perhatian atau hubungannya dengan faktor lain tidak jelas.

Ada juga contoh historis yang menyebutkan bahwa beberapa masyarakat di masa lalu telah secara budaya berkembang sehingga bisa hidup dalam keseimbangan dengan sumberdaya yang ada selama waktu yang cukup lama.

Kegagalan dalam jasa ekosistem dapat berimplikasi di banyak keruntuhan peradaban di masa lalu, namun tidak semuanya. Seperti yang dikemukakan oleh Diamond dalam tulisannya “Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed”, isu yang kritis saat ini adalah bagaimana memberikan masyarakat pilihan untuk merespon tanda-tanda bahaya yang muncul dari kritisnya jasa ekosistem yang ada saat ini.

Peradaban modern tidak kebal

Hari ini, ekonomi tumbuh secara eksponensial, kapasitas alam bumi, seperti kemampuannya untuk memasok air tawar, hasil hutan, dan makanan laut, tidak meningkat tuntutan kolektif. Diperkirakan sudah melampaui kapasitas regeneratif bumi sekitar tahun 1980an. Saat ini, dunia tuntutan pada sistem alam melebihi hasil kapasitas berkelanjutan hampir 30 persen.  Dalam peradaban kita berteknologi tinggi dan modern, sepertinya kita mudah untuk lupa bahwa perekonomian dan keberadaan manusia, sepenuhnya tergantung tidak lepas pada sistem alam bumi dan sumber dayanya.

Sumber: wri.org, unep.org, treehugger.com